Senin, 07 Oktober 2013

Hakikat Komunikasi dan Hubungannya dengan Leadership

     Hakikat sebenarnya dari komunikasi itu adalah mempengaruhi orang lain agar (secara tulus) bersedia berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kalau kita meminta sesuatu kepada orang lain, berarti kita mempengaruhi orang tersebut agar ia mau memberikan apa yang kita minta. Kalau kita mempresentasikan draft program di hadapan jajaran direksi, berarti kita mempengaruhi mereka agar bersedia menyetujui program tersebut. Kalau kita memerintahkan anak buah untuk mengerjakan suatu pekerjaan, berarti kita mempengaruhi agar ia bersedia mengerjakan pekerjaan tersebut (secara tulus) sesuai dengan keinginan kita(bukan terpaksa karena takut).
    Dalam praktek, masih ditemukan Manajer yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan power dalam memaksakan kehendaknya kepada bawahan, karena cara ini yang paling mudah, tidak usah repot-repot mencari kata dan kalimat yang tepat dalam menggugah motivasi karyawan untuk secara tulus dan senang melaksanakan tugasnya (motivation through insight). Semakin rendah kemampuan komunikasi  seorang manajer, semakin cenderung menggunakan kekuasaan dalam mencapai keinginannya, sebaliknya seorang manajer yang memiliki kemampuan komuniasi yang tinggi akan menggunakan kemampuan tersebut dalam mempengaruhi anak buahnya sehingga anak buahnya berinisiatif, termotivasi dan senang melakukan pekerjaannya. Di sinilah hubungan antara komunikasi dan Leadership.
        Hakikat komunikasi dan Leadership adalah sama-sama berupaya mempengaruhi orang lain, agar orang lain tergerak untuk memenuhi keinginan kita (secara tulus dan ikhlas). Untuk bisa berkomunikasi, kita harus menguasai bahasa, karena bahasa adalah alat komunikasi. Tapi sebaliknya walaupun kita menguasai bahasa, tidak berarti kita otomatis memiliki kemampuan berkomunikasi, karena (sekali lagi) komunikasi adalah mempengaruhi, dan jika kita tidak bisa mempengaruhi berati kita tidak memiliki kemampuan komunikasi, atau tidak memiliki leadership.
       Manajer yang  tidak meiliki Leadership,atau dengan kata lain tidak memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dengan tanpa paksaan, dalam menyampaikan keinginan selalu dengan gaya menekan dan mengancam dengan gaya menakut-nakuti dengan kata lain secara otoriter, sehingga dapat disimpulkan Manajer tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan keinginannya secara baik dengan mempertimbangkan harga diri orang lain. Namun celakanya dengan cara berbicara dengan gaya menekan dan mengancam dengan gaya menakut-nakuti justru berhasil membuat karyawan menyelesaikan tugasnya atau berhasil mencapai target penjualannya. Maka yang terjadi selanjutnya mudah ditebak, yaitu senjata dengan cara menekan dan mengancam dengan gaya menakut-nakuti  ini digunakan untuk seterusnya karena kenyataannya senjata ini ampuh dalam memacu karyawan dalam mencapai sasaran yang diinginkan. Lalu apa artinya di mana-mana orang berbondong-bondong mengikuti pelatihan tentang Leadership ?
      Dampak lain adalah bagi karyawan sendiri, yaitu mereka tidak akan melaksanakan tugasnya dengan baik jika tidak di bawah ancaman, karena mereka sudah "terbiasa" dengan cara tersebut. Jika manajer tiba-tiba pendekatannya berubah dengan cara baik dalam arti menggugah hati mereka untuk tergerak dan termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik, justru mereka menjadi heran. "Apa gerangan yang terjadi dengan boss kami ini?" kata mereka.
      Bagi Manajer yang memiliki leadership, kata dan kalimat yang digunakan akan berbeda dengan tanpa mengubah substansinya, misalnya sebagai seorang Manajer harus mau tau cara anak buahnya melaksanakan tugas (bukan mengatakan, tidak mau tau), serta memberi tahu cara yang benar kepada mereka. Cara yang lebih baik lagi adalah merangsang ide mereka dengan memancing saran mereka, mungkin ada cara yang lebih baik dalam mengerjakan pekerjaannya, sehingga pekerjaan tersebut dapat terselesaikan hari ini. Kalimat di atas bisa dikatakan dengan cara berikut: "Menurut Anda adakah cara yang lebih efektif untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga bisa selesai hari ini?" atau " Bagaimana menurut Anda jika pekerjaan tersebut dikerjakan dengan cara ini..., sehingga bisa selesai hari ini". Daripada mengancam dengan mengatakan :"Jika tidak selesai hari ini...", lebih baik mengatakan :"Karena saya sangat yakin dengan kemampuan Anda, di samping selama ini Anda tidak pernah mengecewakan saya, maka saya tidak pernah ragu bahwa Anda pasti bisa menyelesaiakan pekerjaan itu hari ini".
  Ada yang berkomentar bahwa kalimatnya menjadi panjang-panjang dan makan waktu menyampaikannya. Memang demikianlah adanya bahwa pemilihan kata dan kalimat yang menjaga harga diri orang lain biasanya akan sedikit lebih panjang daripada kata-kata yang to the point. Misalnya seorang Manajer bisa menanyakan kepada anak buahnya tentang alasan mengapa target salesnya tidak tercapai dengan dua cara yaitu :"Mengapa target sales Anda minggu lalu tidak tercapai?" atau dengan cara lain:"Saya yakin pasti ada alasan sampai target sales Anda minggu lalu tidak tercapai, boleh saya tahu".
Yang pertama singkat dan cenderung menghentak-hentak, sedangkan yang kedua memperhitungkan harga diri anak buah, yaitu dengan mengganti kata "Mengapa" dengan : "Saya yakin pasti ada alasan",(yang memang benar pasti ada alasannya). Akan lebih celaka lagi jika dalam situasi tersebut di atas seorang Manajer mengatakan " Saya tidak mau tahu alasannya mengapa target Anda minggu lalu tidak tercapai...pokoknya minggu depan harus tercapai...kalau tidak?", dan seterusnya.
      Seorang Manajer tentu harus bisa memberi contoh untuk bisa berkata baik, yang merupakan tuntutan untuk menjadi seorang leader, dan jika ini tidak dilakukan berarti ia tidak memiliki leadership, karena segi lain dari leadership adalah memberi contoh dan teladan, dengan harapan, dengan memberi contoh dan teladan tersebut orang lain akan menirunya.


Sebenarnya bukanlah mulut yang harus dikontrol,
Tapi adalah warna pikiran di otak.
Mulut hanya di bawah perintah otak.
Jika  kondisi emosi yang ada di otak,
Yang dalam bahasa awam diistilahkan dengan suasana hati tidak menyenangkan
Maka ucapan yang keluar di mulut pun tidak menyenangkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar