Hakikat sebenarnya
dari komunikasi itu adalah mempengaruhi
orang lain agar (secara tulus) bersedia berpikir, bersikap, dan bertindak
sesuai dengan keinginan kita. Kalau kita meminta sesuatu kepada orang lain,
berarti kita mempengaruhi orang tersebut agar ia mau memberikan apa yang kita
minta. Kalau kita mempresentasikan draft program di hadapan jajaran direksi,
berarti kita mempengaruhi mereka agar bersedia menyetujui program tersebut.
Kalau kita memerintahkan anak buah untuk mengerjakan suatu pekerjaan, berarti
kita mempengaruhi agar ia bersedia mengerjakan pekerjaan tersebut (secara
tulus) sesuai dengan keinginan kita(bukan terpaksa karena takut).
Dalam praktek, masih
ditemukan Manajer yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan power dalam memaksakan kehendaknya kepada
bawahan, karena cara ini yang paling mudah, tidak usah repot-repot mencari kata
dan kalimat yang tepat dalam menggugah motivasi karyawan untuk secara tulus dan
senang melaksanakan tugasnya (motivation
through insight). Semakin rendah kemampuan komunikasi seorang manajer, semakin cenderung
menggunakan kekuasaan dalam mencapai keinginannya, sebaliknya seorang manajer
yang memiliki kemampuan komuniasi yang tinggi akan menggunakan kemampuan
tersebut dalam mempengaruhi anak buahnya sehingga anak buahnya berinisiatif,
termotivasi dan senang melakukan pekerjaannya. Di sinilah hubungan antara
komunikasi dan Leadership.
Hakikat komunikasi
dan Leadership adalah sama-sama berupaya
mempengaruhi orang lain, agar orang lain tergerak untuk memenuhi keinginan kita
(secara tulus dan ikhlas). Untuk bisa berkomunikasi, kita harus menguasai
bahasa, karena bahasa adalah alat komunikasi. Tapi sebaliknya walaupun kita
menguasai bahasa, tidak berarti kita otomatis memiliki kemampuan berkomunikasi,
karena (sekali lagi) komunikasi adalah mempengaruhi, dan jika kita tidak bisa
mempengaruhi berati kita tidak memiliki kemampuan komunikasi, atau tidak
memiliki leadership.
Manajer yang tidak meiliki Leadership,atau
dengan kata lain tidak memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dengan tanpa
paksaan, dalam menyampaikan keinginan selalu dengan gaya menekan dan mengancam
dengan gaya menakut-nakuti dengan kata lain secara otoriter, sehingga dapat
disimpulkan Manajer tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan
keinginannya secara baik dengan mempertimbangkan harga diri orang lain. Namun
celakanya dengan cara berbicara dengan gaya menekan dan mengancam dengan gaya
menakut-nakuti justru berhasil membuat karyawan menyelesaikan tugasnya atau
berhasil mencapai target penjualannya. Maka yang terjadi selanjutnya mudah
ditebak, yaitu senjata dengan cara menekan dan mengancam dengan gaya
menakut-nakuti ini digunakan untuk seterusnya
karena kenyataannya senjata ini ampuh dalam memacu karyawan dalam mencapai
sasaran yang diinginkan. Lalu apa artinya di mana-mana orang berbondong-bondong
mengikuti pelatihan tentang Leadership ?
Dampak lain adalah
bagi karyawan sendiri, yaitu mereka tidak akan melaksanakan tugasnya dengan
baik jika tidak di bawah ancaman, karena mereka sudah "terbiasa" dengan cara tersebut. Jika
manajer tiba-tiba pendekatannya berubah dengan cara baik dalam arti menggugah
hati mereka untuk tergerak dan termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan
baik, justru mereka menjadi heran. "Apa gerangan yang terjadi dengan boss
kami ini?" kata mereka.
Bagi Manajer yang
memiliki leadership, kata dan kalimat
yang digunakan akan berbeda dengan tanpa mengubah substansinya, misalnya
sebagai seorang Manajer harus mau tau cara anak buahnya melaksanakan tugas
(bukan mengatakan, tidak mau tau), serta memberi tahu cara yang benar kepada
mereka. Cara yang lebih baik lagi adalah merangsang ide mereka dengan memancing
saran mereka, mungkin ada cara yang lebih baik dalam mengerjakan pekerjaannya,
sehingga pekerjaan tersebut dapat terselesaikan hari ini. Kalimat di atas bisa
dikatakan dengan cara berikut: "Menurut Anda adakah cara yang lebih
efektif untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga bisa selesai hari
ini?" atau " Bagaimana menurut Anda jika pekerjaan tersebut
dikerjakan dengan cara ini..., sehingga bisa selesai hari ini". Daripada
mengancam dengan mengatakan :"Jika tidak selesai hari ini...", lebih
baik mengatakan :"Karena saya sangat yakin dengan kemampuan Anda, di
samping selama ini Anda tidak pernah mengecewakan saya, maka saya tidak pernah
ragu bahwa Anda pasti bisa menyelesaiakan pekerjaan itu hari ini".
Ada yang berkomentar
bahwa kalimatnya menjadi panjang-panjang dan makan waktu menyampaikannya.
Memang demikianlah adanya bahwa pemilihan kata dan kalimat yang menjaga harga
diri orang lain biasanya akan sedikit lebih panjang daripada kata-kata yang to the point. Misalnya seorang Manajer bisa
menanyakan kepada anak buahnya tentang alasan mengapa target salesnya tidak
tercapai dengan dua cara yaitu :"Mengapa target sales Anda minggu lalu
tidak tercapai?" atau dengan cara lain:"Saya yakin pasti ada alasan
sampai target sales Anda minggu lalu tidak tercapai, boleh saya tahu".
Yang pertama singkat
dan cenderung menghentak-hentak, sedangkan yang kedua memperhitungkan harga
diri anak buah, yaitu dengan mengganti kata "Mengapa" dengan :
"Saya yakin pasti ada alasan",(yang memang benar pasti ada
alasannya). Akan lebih celaka lagi jika dalam situasi tersebut di atas seorang
Manajer mengatakan " Saya tidak mau tahu alasannya mengapa target Anda
minggu lalu tidak tercapai...pokoknya minggu depan harus tercapai...kalau
tidak?", dan seterusnya.
Seorang Manajer
tentu harus bisa memberi contoh untuk bisa berkata baik, yang merupakan
tuntutan untuk menjadi seorang leader,
dan jika ini tidak dilakukan berarti ia tidak memiliki leadership, karena segi lain dari leadership
adalah memberi contoh dan teladan, dengan harapan, dengan memberi contoh dan
teladan tersebut orang lain akan menirunya.
Sebenarnya bukanlah mulut yang harus
dikontrol,
Tapi adalah warna pikiran di otak.
Mulut hanya di bawah perintah otak.
Jika
kondisi emosi yang ada di otak,
Yang dalam bahasa awam diistilahkan
dengan suasana hati tidak menyenangkan
Maka ucapan yang keluar di mulut pun
tidak menyenangkan